Tough Decision

siapa sih yang ga setuju kalau hidup ini penuh dengan pilihan? aku sangat sangat setuju. bahkan beberapa sampai bikin galau setengah mati. kaya milih baju mana yang mau dibeli, lip cream warna apa yang mau dibeli, mau makan apa di mana. ya ga? itu baru hal simpel.

baru baru ini aku baru melewati suatu keadaan, di mana sebenarnya aku bisa memilih, cuma ada faktor ego juga di sini. bingung ga tuh. yaaa ga jauh jauh dari aroma coass-life lah.

jadi ceritanya aku udah habis periode blok konservasi dan prostodonsi, dan ini udah masuk blok KGM (Kesehatan Gigi Masyarakat). di konservasi aku tinggal ujian, di prostodonsi aku masih ada tanggungan GTC (Gigi Tiruan Cekat) di tahap try in, dan GTSL (Gigi Tiruan Sebagian Lepasan) di tahap pemasangan gigi. bagian konservasi alhamdulillah ga ada masalah. tapi tidak dengan prostodonsi. kedua pekerjaan tersebut dikerjain berpasangan. nah kebetulan pasanganku ini udah masuk periode inhal (kalau aku masih reguler).

namanya blok KGM, jadwal kegiatannya udah padet banget, full. ga bisa disela dengan apapun, termasuk hari orto. nah pasanganku ini, pengin segera menyelesaikan pekerjaan prostodonsi itu. waktu sebelum aku mulai blok KGM, aku dikasih pilihan, mau KGM dulu dengan mengorbankan prostodonsi atau sebaliknya, ambil inhal prostodonsi dulu, ambil KGMnya nanti. aku bingung dong, masa ga ada win win solution yak? aku juga tanya tanya temenku juga gimana bagusnya. kebanyakan sih saranin aku ikut KGM dulu, alasannya diantaranya: (1) karena lebih enak KGM bareng temen yg udah kenal dibanding yg baru kenal; (2) soalnya kalau mundur KGM, semuanya jadi mundur nanti. kalau masalah temen, aku mikirnya kayanya ga ada masalah, kalau bikin yg lain jadi ikut mundur hmmm……aku rada mikir mikir sih. tapi seiring berjalannya waktu, aku semakin terseret untuk mengikuti blok KGM, sampai bener bener udah nyemplung ke permukaan KGM.

dimulailah pembekalan KGM selama 4 hari (Senin-Kamis). hari Senin diawali dengan aku dan beberapa perwakilan kelompok lain pergi ke dinas-BAPPEDA untuk ngurus surat izin kerja praktik. karena jauh, kita janjian jam 7 sampai di kampus, dengan harapan jam 8 kita sampai sana, kantor udah buka, dan ketika balik ke kampus, kita ga telat ikut pembekalan pertama jam 11. nah di hari ini pasanganku nanyain, bisa ga kalau aku menilaikan kerjaan prosto biar bisa lanjut step berikutnya. yaudah yang namanya aku juga masih ada tanggung jawab, aku coba tanyain yg lain ada yg bisa gantiin posisiku atau engga. di sini posisiku sebagai perwakilan kelompok. kebetulan kelompokku anggotanya 4 orang termasuk aku. kebetulan temen temenku udah ada agenda semua dong. akhirnya aku bilang sama pasanganku biar pasiennya didatengin pas aku udah selesai urusan surat, mungkin ada waktu sebelum pembekalan. ya untungnya bener aja, aku sampai kampus sekitar jam 9.30an, trus makan siang, trus baru kita suruh pasiennya dateng. trus pasiennya baru sampai RSGM waktu itu jam 11, pas dengan waktu pembekalan mau mulai. jadi ini pasiennya cuma sempet aku anter ke dental chair aja, abis itu aku pamit ikut pembekalan. sementara kerjaannya dilanjut pasanganku dulu.

trus ini udah mulai masuk ke puskesmas, jadwal kerjanya selama ramadhan itu dari jam 7.30-13.30 (senin-Kamis) 11.30 (jumat) 12.00 (sabtu). trus udah beberapa kali pasanganku nanyain, mau kapan datengin pasiennya, mau kapan. jujur, ini bikin stres sebenarnya, di saat ingin fokus ke KGM, tapi jadi terpikir masih ada tanggungan kerjaan di luar sana.

mungkin dia stres juga karna gara gara aku prostonya ga jalan gara gara aku. akhirnya suatu ahri sepulang aku dari puskesmas, dia ngajak ketemuan. yaudah aku samperin, ternyata dia keberatan dengan aku yg terus nunda, sementara dia lagi semangat-semangatnya buat ngerjain prosto. sebenarnya aku bukan nunda sih. apa ya….ya aku udah ada jadwal begini, dan aku ga boleh izin. dia  udah kukasih jadwalnya. dan dia pun seharusnya tau kalau kita ga bisa izin, toh dia juga tau ada kasus anak yg izin, taunya ngerjain pasien di rsgm, ganjarannya apa. kemudian aku dikasih pilihan lagi, berani ga izin waktu puskesmas? ya Allah, kok masih bisa ya nanya aku bisa izin atau engga, padahal jelas jelas jawabannya ga bisa. kemudian aku tanyain ke dia, selain ini, ada tanggungan lain yg belum selesai? kemudian jawabannya “aku pengin selesain ini dulu”

well, okay, that is not the answer. tapi secara implisit memaksaku untuk menyempatkan waktu untuk ngerjain. okay then, i told my partner, “oh, ya coba aku liat jadwalku, apa ada yg bisa disisipkan” and then dengan cepat dia jawab “ga bakal ada yg bisa disempetin, Yas. jadwal KGM itu padat banget”

yup, there you go. you know that my schedule are tight. yet you’re not allowing me to look a tiny little chance. bingung ga tuh. kemudian seolah olah semua keputusan ada di aku. “this is the end game” kata Doctor Strange. aku harus milih untuk tetap kekeuh, atau melepasin. iya, ini sulit. ibaratnya, kalian udah rela membesarkan anak kalian mulai dari lahir, udah kalian asuh dengan baik, kasih makan, ganti popok, beliin mainan, kemudian tiba tiba kalian cerai dan hak asuh anak kalian jatuh ke tangan pasangan. sedih ga sih.

di sini, itu pasien udah kita bayarin nambalin gigi, cabut gigi, beliin obat, dicetak giginya, kita periksa untuk dibikinin GT, kemudian tiba tiba aku harus merelakan pasien itu. belum lagi perjuangan ketemu dosennya yang masya Allah susahnya.

sedih banget. aku nangis diam diam.

akhirnya aku nghela napas, trus some part of me semacam mewakili diriku buat bilang, “yaudah, kamu lanjutin aja pasiennya, aku nanti aja. sulit kalau mau nyocokin waktunya” and then my partner was like “iya, lagian kasihan pasien GTC dan GTSLnya nanti susunan giginya berubah. apalagi yg GTSL yang rahang bawah takutnya udah berubah kalau nungguin kamu selesai KGM”

oh iya. pasien. bener juga. kasian pasiennya. haha. kasihan diriku juga. yah mau gimana. aku harus ikhlas, toh aku sendiri yg udah ngambil keputusan.

sebenarnya ada kemungkinan lain yg ga aku utarakan ke dia. terkait dengan pertanyaanku yg ga dijawab secara tegas sama dia, sebenarnya sambil nunggu aku KGM, sebenarnya bisa aja dia ngerjain yang lain. sementara pasien pasien ini dikasih gigi tiruan sementara dulu. kenapa aku merasa hanya aku yg “diminta” untuk mengalah. sementara kalau aja dia agak menurunkan egonya, kita bisa cari win-win solutionnya.

yah akunya juga orangnya ga enakan. kalau aku utarakan, takutnya nadaku meninggi, ujung ujungnya nanti hubungan kita malah jadi ga bagus. akhirnya aku tahan diri. aku ngalah. aku udah ambil keputusan, in syaa Allah ini yang terbaik. mungkin bukan rejeki aku. anggap aja yg kemarin cuma untuk nyari pengalaman. walaupun berat rasanya, berat banget, bayangin aja ini udah masuk tahap akhir trus kemudian tiba tiba dibatalkan, tanpa melihat perjuanganku sebelumnya. huff. aku masih belajar untuk ikhlas melepas kedua pasien ini. hingga detik ini.

Iklan

Circle of Friends

hello every one. i wish you have a wonderful day. so i’m writing this after i had a conversation with one of my friend in my group. well it’s not a heavy conversation, just a light conversation, talked about each other’s mind and thoughts during undergraduate times, and about coass early days, our difficulties and stuff. but, today i’m going to share about one thing that mostly common between me and her. and maybe it’s a good thing if you had this kinda situation too.

have you ever feel lonely? like, you know, everyone have their own circle friends, and there’s just you, with no one to hang out with. well, I have and so does my friend. i don’t know if it’s only in my place or your place too, but studying dentistry major in my university, you can’t do it by yourself. you know, you have to find at last one friend to study with, to write a report together. even though the report is an individual task, but you need friends to know the right format report, the right references, and the most important is to motivate each other. don’t think that there were only one report, nope. there are two or more, every week. but that was in the first until third semester as i can remember.

and you need friends to copy mid-semester and end-semester test questions from the upper batch. you can’t get it by yourself right? you need acquaintance, and a large circle of friends. why this is important? i tell you a secret. some of the questions, sometimes are the same as the questions from the last semester. but sometimes are not the same, but similar. you see? it help us to get a higher grade.

if it’s not the questions, maybe just tips and the doctor’s typical style in test. it helps you prepare for the test. and then you can study together with your friend

you see, you can’t ‘live’ alone in dentistry during undergraduate times.

at the beginning of the first semester. i ‘live’ alone. well, at first, like usual everyone greeted each other, at least every person that seated beside them. still not knowing are they a good person or not. and then days goes by, they have friends that clicked each other, but not a strong relationships. and then, they started to go everywhere with that friends. and weeks goes by, they know where each other live and they go culinary together. and just like that they have they own circle.

me? nope. at the time they have their own circle, i still didn’t have one. so i started to think that i’m alone and i have to live with that for the rest of my study years. i only friends with them, but it’s just a friend-that-seated-beside-me and a friend-with-the-same-hometown. and after we moved class, they will go with their friends. and i’m alone again.

at a spike, i thought i have my own friend, i did have gone to a mall with some friends, but it doesn’t stay long. i forgot why. lol. as i can see, it wasn’t happen in my circle only. but it happen with some of them too. so in this part, they were still changing friends. still looked for the right friends. lol.

so then i thought, i can’t forever live alone like this, you know. i don’t know any information about stuffs. then i have a friend that comes from the same hometown with me. frankly, i did’t really like her lol. but there were some chances that i like being friend with her. then i just stick with her. by that time, she already have her circle of friends. and just like that, at almost in the end of the first semester, i slowly join her circle and become my circle hehehe.

but as the time flies, you will find your own circle of friends. i really thank God that i’ve found my own and we’re still hang out till now. even though we’re in the different block group, but we still find times to hang just for some light chit chat. they’re the best.

well how about you?

what if you still alone?

don’t worry. i have tips for you, and it’s based on my experience, you might find a different situation with you

first, be an open person

for me, being open is the first step. start with the little things, such as greet your friends first, and start to ask where they live, are they live near you or not, hobbies, and stuff about college. you’ll get into that. here’s some tips, if they talked a lot, just listen to them. it doesn’t do you any harm right, to be a good listener? or the least thing you can do, pretend you listen to them 🙂

second, don’t judge too fast

oh they’re ugly, i don’t wanna be friend with them. oh they’re pretty, i’d love to be friend with them. oh they’re too noisy. oh they’re too quiet. oh this, and that. no. don’t. stop. well i won’t deny that appearance of a person reflects their characteristics. but, at some point, you will know that they are not as they seem. and by then, try to be friends with them. and when you know that they weren’t good, you have 2 options, don’t be friends with them, and try to accept them which bring us to the third tips

third, learn to accept

this tips is for you who stuck to a group of people which you can’t leave them and you have to be part of them in the rest 7-8 semesters. this kinda group usually your lab group, presentation group, papers group, etc group that divided by your student number. and this person’s student number is right above or below you. you know what i mean?

at the first time your group gather, you will know their attitude, how they speak, and how they role in your group. and you might find someone or some people that was annoying to you. but you can’t deny them, you can’t just ask your lecturer to switch your group. no guys. this is how you’re tested to be grown up. just stay calm. accept ‘a part of’ them. look for something that makes you like them. don’t only focus on what makes you annoyed. just try. you’ll find a way.

well, that’s all that i can give you. i hope it’ll help your lonely problem. and one thing,

You are not alone

have a nice day 🙂

Coass dari sisi Coass

Assalamualaikum wr. wb.

Haloo semuahnyaa. kali ini aku menyampaikan sebuah opini. sebenarnya cenderung memperbaiki persepsi sih. ya, aku mau meluruskan pandangan coass itu di mata Anda Anda semua.

coba deh, what do you think about coass? what comes first in your mind when you hear coass? or, how do you feel when you heard that a coass want to give you dental treatment?

“takut ah”, “emang mereka bisa?”, “ntar kenapa kenapa lagi”, “paling kita cuma dijadiin kelinci percobaan”, “gratis ya”, pada akhirnya mereka akan menjawab “gak mau ah dirawat sama coass”

senyumin aja dah

first of all, please read this carefully and keep in mind that,

“Pasien itu bukanlah kelinci percobaan kita. Pasien adalah manusia. Keselamatan pasien ada di tangan kami sehingga kami tidak mungkin tidak bekerja secara profesional”

fyi, sebelum kami bekerja di coass, kami sudah mengucapkan sumpah coass sehingga tentu saja, kami akan bekerja secara profesional.

percayalah, dari awal, sudah ditanamkan di dalam benak kami bahwa ketika coass nanti, kami akan berhadapan seorang pasien, kami harus memanusiakan manusia. jangan kira untuk mengerjakan perawatan para pasien, kami langsung bekerja. no dear, no. untuk mencapai tahap memegang pasien, kami harus melewati beberapa tahap terlebih dahulu. dan tahap tahap ini bertujuan untuk mematangkan ilmu-ilmu yang sudah kami dapat sehingga benar benar siap secara mental dan fisik.

biasanya, pertama kita akan melihat langsung keluhan dari masing-masing pasien. kalau misalnya ada sariawan, kita liat dulu sariawannya di mana, bentuknya gimana, ukurannya seberapa, warnanya apa, sakit atau tidak, dll.

kalau misalnya gigi berlubang, kita lihat lubangnya di gigi apa, seberapa besarnya, letaknya di bagian mananya gigi, sedalam apa, giginya udah mati apa masih bisa dipertahankan, dll.

nah itu semua kita catat, trus kita analisis dulu dan bikin diagnosis dulu. trus perawatannya yang tepat bagaimana. abis itu diskusi dulu ke dokter pembimbing apakah diagnosis kita benar, rencana perawatannya sudah benar, dan tak lupa sambil diskusi, kita sambil ditanya-tanya seputar keluhan pasien yang sedang kita tangani.

nah untuk diskusi ini pun kita harus nunggu dokternya dulu, janjian dulu, belum lagi uji nyali dulu kalau dokternya unpredictable. ya walaupun ga semua dokter begitu, tapi pasti ada setidaknya kita menemukan satu dokter pembimbing yang sifatnya begitu.

kadang diskusi ini juga ga cuma sekali. yah semua itu tergantung apakah dokter pembimbing merasa kita sudah siap atau belum.

nah setelah kita dirasa sudah siap, bisa jawab semua pertanyaan dokternya, baru deh kita bisa ngasih perawatan ke pasien. it’s not as easy as it seems, dear.

percayalah, pasien itu sama sekali bukan kelinci percobaan. you are human and so are we. so we will treat you like how we want to be treated.

ya mungkin di tengah tengah perawatan kita bisa melakukan kesalahan. tidak bisa dipungkiri memang kalau kita baru kali ini memegang pasien dan pengalaman kita masih jauh dari cukup. tapi bukan berarti kita tidak akan bertanggung jawab. kita dituntut untuk profesional walaupun masih berstatus dokter gigi muda, atau coass. tapi dari situlah kita mendapatkan pelajaran kan? like everybody said, pengalaman adalah guru yang berharga. toh dokter-dokter yang lain juga pasti pernah melakukan kesalahan pada masa-masa awal. tugas kita adalah memperbaiki kesalahan kita dan tidak mengulanginya di kemudian hari.

sekali lagi, jangan takut. kita adalah profesional muda. toh di fakultas lain S1 sudah bisa kerja secara profesional kan? begitu juga kita.

kalau di coass itu, bisa disamakan dengan magang. hanya saja ini magangnya terstruktur  dan ada requirement khusus yang harus kita penuhi sehingga kita bisa bekerja secara mandiri.

yang namanya magang, ya ga dibayar. makannya perawatan dengan coass itu adalah yang paling murah. karena itu tadi, jasa kita tidak (belum) dibayar. jadi pasien hanya membayar alat dan bahan. malahan ga jarang juga kita yang bayari pasien.

kasian ya kita, sudah tak digaji, malah ngebayarin pasien *cry* 😦

kenapa kita ngebayarin pasien? well, some people who meet our requirement was poor. karena memang beberapa kasus memang dipengaruhi oleh faktor ekonomi. contohnya? gigi tiruan lengkap, cabut sisa akar. why? hmmm mungkin karena mereka tidak mampu untuk merawatkan giginya saat masih dalam tahap awal kerusakan. atau memang kesadaran terhadap kesehatan gigi dan mulutnya kurang, jadi pas masih belum sakit belum ke dokter gigi. tapi  waktu udah sakit baru ke dokter gigi. padahal saat gigi terasa sakit itu keadaannya sudah parah sehingga gigi harus dicabut.

yaa bermacam-macam alasan tergantung kedadaan individu.

sebenarnya kita sedih juga ketika ada teman yang ingin perawatan, tapi ingin dibayari alias gratis. ya kita memang butuh sih, tapi kalau duitnya seret, ya requirement juga ga bisa terpenuhi 😦 so for anyone who accidentally stop by to read this, i wanna say “mohon bantuan dan kerja samanya yaa. kita para coass bekerja secara profesional kok”

kita hanyalah dokter gigi (berusia) muda yang membutuhkan pengalaman. kita akan bekerja secara profesional. jadi jangan pernah ragu untuk datang ke kita