Coass dari sisi Coass

Assalamualaikum wr. wb.

Haloo semuahnyaa. kali ini aku menyampaikan sebuah opini. sebenarnya cenderung memperbaiki persepsi sih. ya, aku mau meluruskan pandangan coass itu di mata Anda Anda semua.

coba deh, what do you think about coass? what comes first in your mind when you hear coass? or, how do you feel when you heard that a coass want to give you dental treatment?

“takut ah”, “emang mereka bisa?”, “ntar kenapa kenapa lagi”, “paling kita cuma dijadiin kelinci percobaan”, “gratis ya”, pada akhirnya mereka akan menjawab “gak mau ah dirawat sama coass”

senyumin aja dah

first of all, please read this carefully and keep in mind that,

“Pasien itu bukanlah kelinci percobaan kita. Pasien adalah manusia. Keselamatan pasien ada di tangan kami sehingga kami tidak mungkin tidak bekerja secara profesional”

fyi, sebelum kami bekerja di coass, kami sudah mengucapkan sumpah coass sehingga tentu saja, kami akan bekerja secara profesional.

percayalah, dari awal, sudah ditanamkan di dalam benak kami bahwa ketika coass nanti, kami akan berhadapan seorang pasien, kami harus memanusiakan manusia. jangan kira untuk mengerjakan perawatan para pasien, kami langsung bekerja. no dear, no. untuk mencapai tahap memegang pasien, kami harus melewati beberapa tahap terlebih dahulu. dan tahap tahap ini bertujuan untuk mematangkan ilmu-ilmu yang sudah kami dapat sehingga benar benar siap secara mental dan fisik.

biasanya, pertama kita akan melihat langsung keluhan dari masing-masing pasien. kalau misalnya ada sariawan, kita liat dulu sariawannya di mana, bentuknya gimana, ukurannya seberapa, warnanya apa, sakit atau tidak, dll.

kalau misalnya gigi berlubang, kita lihat lubangnya di gigi apa, seberapa besarnya, letaknya di bagian mananya gigi, sedalam apa, giginya udah mati apa masih bisa dipertahankan, dll.

nah itu semua kita catat, trus kita analisis dulu dan bikin diagnosis dulu. trus perawatannya yang tepat bagaimana. abis itu diskusi dulu ke dokter pembimbing apakah diagnosis kita benar, rencana perawatannya sudah benar, dan tak lupa sambil diskusi, kita sambil ditanya-tanya seputar keluhan pasien yang sedang kita tangani.

nah untuk diskusi ini pun kita harus nunggu dokternya dulu, janjian dulu, belum lagi uji nyali dulu kalau dokternya unpredictable. ya walaupun ga semua dokter begitu, tapi pasti ada setidaknya kita menemukan satu dokter pembimbing yang sifatnya begitu.

kadang diskusi ini juga ga cuma sekali. yah semua itu tergantung apakah dokter pembimbing merasa kita sudah siap atau belum.

nah setelah kita dirasa sudah siap, bisa jawab semua pertanyaan dokternya, baru deh kita bisa ngasih perawatan ke pasien. it’s not as easy as it seems, dear.

percayalah, pasien itu sama sekali bukan kelinci percobaan. you are human and so are we. so we will treat you like how we want to be treated.

ya mungkin di tengah tengah perawatan kita bisa melakukan kesalahan. tidak bisa dipungkiri memang kalau kita baru kali ini memegang pasien dan pengalaman kita masih jauh dari cukup. tapi bukan berarti kita tidak akan bertanggung jawab. kita dituntut untuk profesional walaupun masih berstatus dokter gigi muda, atau coass. tapi dari situlah kita mendapatkan pelajaran kan? like everybody said, pengalaman adalah guru yang berharga. toh dokter-dokter yang lain juga pasti pernah melakukan kesalahan pada masa-masa awal. tugas kita adalah memperbaiki kesalahan kita dan tidak mengulanginya di kemudian hari.

sekali lagi, jangan takut. kita adalah profesional muda. toh di fakultas lain S1 sudah bisa kerja secara profesional kan? begitu juga kita.

kalau di coass itu, bisa disamakan dengan magang. hanya saja ini magangnya terstruktur  dan ada requirement khusus yang harus kita penuhi sehingga kita bisa bekerja secara mandiri.

yang namanya magang, ya ga dibayar. makannya perawatan dengan coass itu adalah yang paling murah. karena itu tadi, jasa kita tidak (belum) dibayar. jadi pasien hanya membayar alat dan bahan. malahan ga jarang juga kita yang bayari pasien.

kasian ya kita, sudah tak digaji, malah ngebayarin pasien *cry* 😦

kenapa kita ngebayarin pasien? well, some people who meet our requirement was poor. karena memang beberapa kasus memang dipengaruhi oleh faktor ekonomi. contohnya? gigi tiruan lengkap, cabut sisa akar. why? hmmm mungkin karena mereka tidak mampu untuk merawatkan giginya saat masih dalam tahap awal kerusakan. atau memang kesadaran terhadap kesehatan gigi dan mulutnya kurang, jadi pas masih belum sakit belum ke dokter gigi. tapi  waktu udah sakit baru ke dokter gigi. padahal saat gigi terasa sakit itu keadaannya sudah parah sehingga gigi harus dicabut.

yaa bermacam-macam alasan tergantung kedadaan individu.

sebenarnya kita sedih juga ketika ada teman yang ingin perawatan, tapi ingin dibayari alias gratis. ya kita memang butuh sih, tapi kalau duitnya seret, ya requirement juga ga bisa terpenuhi 😦 so for anyone who accidentally stop by to read this, i wanna say “mohon bantuan dan kerja samanya yaa. kita para coass bekerja secara profesional kok”

kita hanyalah dokter gigi (berusia) muda yang membutuhkan pengalaman. kita akan bekerja secara profesional. jadi jangan pernah ragu untuk datang ke kita