[Review] Barchskin.id Clay Mask: Bubble Gum

hello guyss. kesempatan kali ini aku mau mereview salah satu produk terbaru dari produk lokal, yaitu Barchskin.id, yaitu Clay Mask. kebetulan aku lagi pakai yang varian Bubble gum, jadi aku akan lebih mereview varian ini.

aku belinya waktu Barchskin.id masih kasih promo paket harga 100.000. isinya Clay mask, Mask brush, dan sponge. dibungkus dalam satu kotak lucu gitu. kalau sekarang paket yang sama sepertinya harganya 110.000 deh. mungkin karna saat itu baru launching. coba dicek aja guys di sini. Baca selengkapnya

Iklan

My Skin Care Routine (Cleaning)

well since every one (yes i mean every one, boys and girls) is talking about skin care, i think i should write something about it. my idea is just sharing what skin care i wear, what i’ve tried and stuff according to my experience.

important to know what your skin type is first. my skin type is oily, acne prone, and rather sensitive. what i mean by sensitive is my face would turn red (rash) in a second after i put on a skin care i don’t compatible with. but sometimes, it won’t red after several hours but then it turned red for the rest of the day until i clean up my face and go back to the previous skin care i replaced. and another time, it would breakout, like so many acne just popped here and there, big or little. hoaahh it got me stressed out then.

so i’m going to tell you the steps and a brief reviews of the product i use in this page. and i will explain further later in another occasion. hihi forgive me.

CLEANING Baca selengkapnya

Circle of friends (2)

hello everyone. how’s your day? i wish you all have a blessing day. it’s been a long time since i didn’t write. it have been a tough and a busy months. i wanted to tell you what’s in my mind, my feeling, about friends and how i dealt with them.

first of all, you have to know that i easily cried over something heart-aching, which means it is fragile. i think a lot over something, and i feel a lot.

so right now, i’m in the end stage of coass. we go to district hospital for a couple weeks. we studied how they manage a hospital, how are their medical record system, knowing about forensic dentistry, how do we manage dental treatment in patient with systemic disease, and the last one of course, knowing about oral surgery. so we’ve divided into 3 groups, and i was in the first group.

honestly, in my group, there’s no one i closed with. so i started talking to them tried to be closer than before, in a hope there’s someone i can be closest with. well there’s someone i used to be closed before this last stage, but since she has a boyfriend in the same group so i don’t expect much. in the end, i can’t make someone to be closed to me. i mean, we were all friends, but for some of them the more i get to know, the more i don’t feel comfortable with them, then i just pull myself away. i’d rather did it that way than pushed them away. but it’s a different story when they let you down and breaks your heart. well in that case, i’ll push them them away, and that is easy as well.

and then i just realize of something. for me, it is easy to make friends, and it is easy to pull yourself or push them away, but it is hard to keep your friendship. i’d rather be alone.

Tough Decision

siapa sih yang ga setuju kalau hidup ini penuh dengan pilihan? aku sangat sangat setuju. bahkan beberapa sampai bikin galau setengah mati. kaya milih baju mana yang mau dibeli, lip cream warna apa yang mau dibeli, mau makan apa di mana. ya ga? itu baru hal simpel.

baru baru ini aku baru melewati suatu keadaan, di mana sebenarnya aku bisa memilih, cuma ada faktor ego juga di sini. bingung ga tuh. yaaa ga jauh jauh dari aroma coass-life lah.

jadi ceritanya aku udah habis periode blok konservasi dan prostodonsi, dan ini udah masuk blok KGM (Kesehatan Gigi Masyarakat). di konservasi aku tinggal ujian, di prostodonsi aku masih ada tanggungan GTC (Gigi Tiruan Cekat) di tahap try in, dan GTSL (Gigi Tiruan Sebagian Lepasan) di tahap pemasangan gigi. bagian konservasi alhamdulillah ga ada masalah. tapi tidak dengan prostodonsi. kedua pekerjaan tersebut dikerjain berpasangan. nah kebetulan pasanganku ini udah masuk periode inhal (kalau aku masih reguler).

namanya blok KGM, jadwal kegiatannya udah padet banget, full. ga bisa disela dengan apapun, termasuk hari orto. nah pasanganku ini, pengin segera menyelesaikan pekerjaan prostodonsi itu. waktu sebelum aku mulai blok KGM, aku dikasih pilihan, mau KGM dulu dengan mengorbankan prostodonsi atau sebaliknya, ambil inhal prostodonsi dulu, ambil KGMnya nanti. aku bingung dong, masa ga ada win win solution yak? aku juga tanya tanya temenku juga gimana bagusnya. kebanyakan sih saranin aku ikut KGM dulu, alasannya diantaranya: (1) karena lebih enak KGM bareng temen yg udah kenal dibanding yg baru kenal; (2) soalnya kalau mundur KGM, semuanya jadi mundur nanti. kalau masalah temen, aku mikirnya kayanya ga ada masalah, kalau bikin yg lain jadi ikut mundur hmmm……aku rada mikir mikir sih. tapi seiring berjalannya waktu, aku semakin terseret untuk mengikuti blok KGM, sampai bener bener udah nyemplung ke permukaan KGM.

dimulailah pembekalan KGM selama 4 hari (Senin-Kamis). hari Senin diawali dengan aku dan beberapa perwakilan kelompok lain pergi ke dinas-BAPPEDA untuk ngurus surat izin kerja praktik. karena jauh, kita janjian jam 7 sampai di kampus, dengan harapan jam 8 kita sampai sana, kantor udah buka, dan ketika balik ke kampus, kita ga telat ikut pembekalan pertama jam 11. nah di hari ini pasanganku nanyain, bisa ga kalau aku menilaikan kerjaan prosto biar bisa lanjut step berikutnya. yaudah yang namanya aku juga masih ada tanggung jawab, aku coba tanyain yg lain ada yg bisa gantiin posisiku atau engga. di sini posisiku sebagai perwakilan kelompok. kebetulan kelompokku anggotanya 4 orang termasuk aku. kebetulan temen temenku udah ada agenda semua dong. akhirnya aku bilang sama pasanganku biar pasiennya didatengin pas aku udah selesai urusan surat, mungkin ada waktu sebelum pembekalan. ya untungnya bener aja, aku sampai kampus sekitar jam 9.30an, trus makan siang, trus baru kita suruh pasiennya dateng. trus pasiennya baru sampai RSGM waktu itu jam 11, pas dengan waktu pembekalan mau mulai. jadi ini pasiennya cuma sempet aku anter ke dental chair aja, abis itu aku pamit ikut pembekalan. sementara kerjaannya dilanjut pasanganku dulu.

trus ini udah mulai masuk ke puskesmas, jadwal kerjanya selama ramadhan itu dari jam 7.30-13.30 (senin-Kamis) 11.30 (jumat) 12.00 (sabtu). trus udah beberapa kali pasanganku nanyain, mau kapan datengin pasiennya, mau kapan. jujur, ini bikin stres sebenarnya, di saat ingin fokus ke KGM, tapi jadi terpikir masih ada tanggungan kerjaan di luar sana.

mungkin dia stres juga karna gara gara aku prostonya ga jalan gara gara aku. akhirnya suatu ahri sepulang aku dari puskesmas, dia ngajak ketemuan. yaudah aku samperin, ternyata dia keberatan dengan aku yg terus nunda, sementara dia lagi semangat-semangatnya buat ngerjain prosto. sebenarnya aku bukan nunda sih. apa ya….ya aku udah ada jadwal begini, dan aku ga boleh izin. dia  udah kukasih jadwalnya. dan dia pun seharusnya tau kalau kita ga bisa izin, toh dia juga tau ada kasus anak yg izin, taunya ngerjain pasien di rsgm, ganjarannya apa. kemudian aku dikasih pilihan lagi, berani ga izin waktu puskesmas? ya Allah, kok masih bisa ya nanya aku bisa izin atau engga, padahal jelas jelas jawabannya ga bisa. kemudian aku tanyain ke dia, selain ini, ada tanggungan lain yg belum selesai? kemudian jawabannya “aku pengin selesain ini dulu”

well, okay, that is not the answer. tapi secara implisit memaksaku untuk menyempatkan waktu untuk ngerjain. okay then, i told my partner, “oh, ya coba aku liat jadwalku, apa ada yg bisa disisipkan” and then dengan cepat dia jawab “ga bakal ada yg bisa disempetin, Yas. jadwal KGM itu padat banget”

yup, there you go. you know that my schedule are tight. yet you’re not allowing me to look a tiny little chance. bingung ga tuh. kemudian seolah olah semua keputusan ada di aku. “this is the end game” kata Doctor Strange. aku harus milih untuk tetap kekeuh, atau melepasin. iya, ini sulit. ibaratnya, kalian udah rela membesarkan anak kalian mulai dari lahir, udah kalian asuh dengan baik, kasih makan, ganti popok, beliin mainan, kemudian tiba tiba kalian cerai dan hak asuh anak kalian jatuh ke tangan pasangan. sedih ga sih.

di sini, itu pasien udah kita bayarin nambalin gigi, cabut gigi, beliin obat, dicetak giginya, kita periksa untuk dibikinin GT, kemudian tiba tiba aku harus merelakan pasien itu. belum lagi perjuangan ketemu dosennya yang masya Allah susahnya.

sedih banget. aku nangis diam diam.

akhirnya aku nghela napas, trus some part of me semacam mewakili diriku buat bilang, “yaudah, kamu lanjutin aja pasiennya, aku nanti aja. sulit kalau mau nyocokin waktunya” and then my partner was like “iya, lagian kasihan pasien GTC dan GTSLnya nanti susunan giginya berubah. apalagi yg GTSL yang rahang bawah takutnya udah berubah kalau nungguin kamu selesai KGM”

oh iya. pasien. bener juga. kasian pasiennya. haha. kasihan diriku juga. yah mau gimana. aku harus ikhlas, toh aku sendiri yg udah ngambil keputusan.

sebenarnya ada kemungkinan lain yg ga aku utarakan ke dia. terkait dengan pertanyaanku yg ga dijawab secara tegas sama dia, sebenarnya sambil nunggu aku KGM, sebenarnya bisa aja dia ngerjain yang lain. sementara pasien pasien ini dikasih gigi tiruan sementara dulu. kenapa aku merasa hanya aku yg “diminta” untuk mengalah. sementara kalau aja dia agak menurunkan egonya, kita bisa cari win-win solutionnya.

yah akunya juga orangnya ga enakan. kalau aku utarakan, takutnya nadaku meninggi, ujung ujungnya nanti hubungan kita malah jadi ga bagus. akhirnya aku tahan diri. aku ngalah. aku udah ambil keputusan, in syaa Allah ini yang terbaik. mungkin bukan rejeki aku. anggap aja yg kemarin cuma untuk nyari pengalaman. walaupun berat rasanya, berat banget, bayangin aja ini udah masuk tahap akhir trus kemudian tiba tiba dibatalkan, tanpa melihat perjuanganku sebelumnya. huff. aku masih belajar untuk ikhlas melepas kedua pasien ini. hingga detik ini.

Circle of Friends

hello every one. i wish you have a wonderful day. so i’m writing this after i had a conversation with one of my friend in my group. well it’s not a heavy conversation, just a light conversation, talked about each other’s mind and thoughts during undergraduate times, and about coass early days, our difficulties and stuff. but, today i’m going to share about one thing that mostly common between me and her. and maybe it’s a good thing if you had this kinda situation too.

have you ever feel lonely? like, you know, everyone have their own circle friends, and there’s just you, with no one to hang out with. well, I have and so does my friend. i don’t know if it’s only in my place or your place too, but studying dentistry major in my university, you can’t do it by yourself. you know, you have to find at last one friend to study with, to write a report together. even though the report is an individual task, but you need friends to know the right format report, the right references, and the most important is to motivate each other. don’t think that there were only one report, nope. there are two or more, every week. but that was in the first until third semester as i can remember. Baca selengkapnya

First Block has Passed

hello guys. here i am again, writing again in my spare time. it’s not that i didn’t have any spare time during first block, but it’s true you know, what my friend once told me,

if you have spare time, you’d better use it to sleep

before i tell you what block what i’m in, let me explain to you my coass system here. so to reach the ‘dentist’ title, we have to pass 4 blocks which are consist of 9 departments: conservation (dental filling, root canal treatment), prosthodontic (tooth prosthetic), oral surgery (dental extraction, wisdom tooth extraction), oral medicine, pediatric dental (to treat children’s tooth), periodontal, orthodontics, radiology, public dental health (dental in hospitals).

  • 1st block: conservation, prosthodontics, orthodontics
  • 2nd block: oral surgery, oral medicine, orthodontics, radiology
  • 3rd block: pediatric dental, periodontal, orthodontics, radiology

after we finish through all 3 blocks but orthodontic, we can continue to the 4th block, which is public dental health where we were distributed among hospitals around here. while orthodontic patient must still control every week.

each block member was divided by the sum of our batch, and then divided by three, and the first group  went to the 1st block, 2 group to the 2nd block, and the third went to the third block

so, these last 4 almost 5 months, i’ve been in the 2nd block that consist of 4 departments: oral surgery, oral medicine, orthodontics, and radiology. so yea, alhamdulillah all of the reqiurement of oral surgery has been finished, radiology as well. i can continue to the 2nd session of radiology. while oral medicine….hmm…how can i explain it, i got no patient that can be indicated to my supervisor, so i failed to fill my requirements.

so in the oral surgery department, we have to get 50 points. it is include individual tooth extraction, root extraction, odontectomy and suture. and each tooth of extraction has a different point. if it necrose posterior, we got 3 points. if it radices in any element or region, we got 1 point. but if it necrose in the anterior region, we got 2 points. and odontectomy got 4 point. so yeah, i got more than 50 points, 56 points to be precised for tooth and root extraction. and i did odontectomy to 2 patients, and they have went to control and hecting aff.

in radiology, we have to observe first. we observe how to give instructions to patients, how to positioned patient in each technique, like periapical, bitewing, occlusal, panoramic, and cephalometric, either analog or digital. and how to processed the film. and then we have to discuss our observation result with our supervisor, and then if our supervisor already satisfied, we got to do it on our own. yup, we have to radiograph to patient without help, from positioning, photo, and processing. then we discuss again about the image result in our own radiograph. it’s okay if it’s not perfect as long as we know where’s the fault and why we did it wrong. next, we interpreted radiograph image. but not all images, only if there are caries and periodontal disorder in the image. the minimum requirements are 5 caries images and 2 periodontal images. and if all of it was done, then we evaluate our works with our supervisor,and if we passed, we can continue to the next session, ,which i did hihihi.

next is oral medicine. hmm it’s quite hard you know to find patients with specific requirements. we have 7 requirements here including 5 main cases and 2 additional cases. 5 main cases are immunologic, vesicobulo ulcerative, infection of the mouth, systemic, neoplasm. and the additional cases were…hmm i forgot haha. because i haven’t found any patients haha.

well, i only got 3 cases. well all of three were main cases, which were immunologic, vesicobullo ulcerative, and neoplasm. beside the rareness of the patients, the thing that got me stuck on doing anything was my supervisor themselves. we have 6 supervisors, and every case must be supervised with different doctor. then,  if i want to check the patient to my supervisor, we have to write down their medical record. but every supervisor have their own standard on how to write medical record. i took a long time confusing which one i had to do first, and end up doing nothing lol. next, after we check our patients to our supervisor, we have to discuss our writing on the medical record, and  then we write down a report which its content was the same as in medical record but in full-length version. and then we have to wait until our supervisor checked our report. some of them must take a few weeks, and some of them only a few days. huft. some of them have an additional task to make, and some of them must take test first before our result came out. you see, it’s different between the supervisors.

that’s why i can’t fill my requirements. there so many things to do before our period ended.

oh, and orthodontics, during the time, we just have to control the patient once a week. it require 2 patients, while i still got 1 patient. well, it’s not the permanent orthodontic, it’s the one that can be take in or out by the patient orthodontics.

maybe if you want to be my patient, you can contact me haha. but in Yogyakarta only. i can’t make you my patient if you’re hundreds kilometers away, right? how am i suppose to take you here? by plane? lol not happening.

urusanku urusanmu

sering sekali kita dihadapkan pilihan antara diri sendiri atau orang lain. menjalankannya ga semudah mengucap sumpah dan janji. ya, anda punya urusan, begitu pun saya. semua orang ingin didahulukan urusannya. merasa urusannya yg paling penting. tapi apa yang hilang di sini? saking merasanya paling penting, terkadang sampai sopan santun dan etika pun hilang seperti tak pernah diajarkan. di mana rasa menghargai? menghargai bahwa ada yang namanya prioritas di sini. yang mengatur mana dulu urusan yg didahulukan. seperti di triase

ah sepertinya yg kutulis semuanya salah. toh mindset orang berbeda beda. ini hanya penilaian subjektif semata. hanya curahan kepenatan yang sementara

Coass dari sisi Coass

Assalamualaikum wr. wb.

Haloo semuahnyaa. kali ini aku menyampaikan sebuah opini. sebenarnya cenderung memperbaiki persepsi sih. ya, aku mau meluruskan pandangan coass itu di mata Anda Anda semua.

coba deh, what do you think about coass? what comes first in your mind when you hear coass? or, how do you feel when you heard that a coass want to give you dental treatment?

“takut ah”, “emang mereka bisa?”, “ntar kenapa kenapa lagi”, “paling kita cuma dijadiin kelinci percobaan”, “gratis ya”, pada akhirnya mereka akan menjawab “gak mau ah dirawat sama coass”

senyumin aja dah

first of all, please read this carefully and keep in mind that,

“Pasien itu bukanlah kelinci percobaan kita. Pasien adalah manusia. Keselamatan pasien ada di tangan kami sehingga kami tidak mungkin tidak bekerja secara profesional”

fyi, sebelum kami bekerja di coass, kami sudah mengucapkan sumpah coass sehingga tentu saja, kami akan bekerja secara profesional.

percayalah, dari awal, sudah ditanamkan di dalam benak kami bahwa ketika coass nanti, kami akan berhadapan seorang pasien, kami harus memanusiakan manusia. jangan kira untuk mengerjakan perawatan para pasien, kami langsung bekerja. no dear, no. untuk mencapai tahap memegang pasien, kami harus melewati beberapa tahap terlebih dahulu. dan tahap tahap ini bertujuan untuk mematangkan ilmu-ilmu yang sudah kami dapat sehingga benar benar siap secara mental dan fisik.

biasanya, pertama kita akan melihat langsung keluhan dari masing-masing pasien. kalau misalnya ada sariawan, kita liat dulu sariawannya di mana, bentuknya gimana, ukurannya seberapa, warnanya apa, sakit atau tidak, dll.

kalau misalnya gigi berlubang, kita lihat lubangnya di gigi apa, seberapa besarnya, letaknya di bagian mananya gigi, sedalam apa, giginya udah mati apa masih bisa dipertahankan, dll.

nah itu semua kita catat, trus kita analisis dulu dan bikin diagnosis dulu. trus perawatannya yang tepat bagaimana. abis itu diskusi dulu ke dokter pembimbing apakah diagnosis kita benar, rencana perawatannya sudah benar, dan tak lupa sambil diskusi, kita sambil ditanya-tanya seputar keluhan pasien yang sedang kita tangani.

nah untuk diskusi ini pun kita harus nunggu dokternya dulu, janjian dulu, belum lagi uji nyali dulu kalau dokternya unpredictable. ya walaupun ga semua dokter begitu, tapi pasti ada setidaknya kita menemukan satu dokter pembimbing yang sifatnya begitu.

kadang diskusi ini juga ga cuma sekali. yah semua itu tergantung apakah dokter pembimbing merasa kita sudah siap atau belum.

nah setelah kita dirasa sudah siap, bisa jawab semua pertanyaan dokternya, baru deh kita bisa ngasih perawatan ke pasien. it’s not as easy as it seems, dear.

percayalah, pasien itu sama sekali bukan kelinci percobaan. you are human and so are we. so we will treat you like how we want to be treated.

ya mungkin di tengah tengah perawatan kita bisa melakukan kesalahan. tidak bisa dipungkiri memang kalau kita baru kali ini memegang pasien dan pengalaman kita masih jauh dari cukup. tapi bukan berarti kita tidak akan bertanggung jawab. kita dituntut untuk profesional walaupun masih berstatus dokter gigi muda, atau coass. tapi dari situlah kita mendapatkan pelajaran kan? like everybody said, pengalaman adalah guru yang berharga. toh dokter-dokter yang lain juga pasti pernah melakukan kesalahan pada masa-masa awal. tugas kita adalah memperbaiki kesalahan kita dan tidak mengulanginya di kemudian hari.

sekali lagi, jangan takut. kita adalah profesional muda. toh di fakultas lain S1 sudah bisa kerja secara profesional kan? begitu juga kita.

kalau di coass itu, bisa disamakan dengan magang. hanya saja ini magangnya terstruktur  dan ada requirement khusus yang harus kita penuhi sehingga kita bisa bekerja secara mandiri.

yang namanya magang, ya ga dibayar. makannya perawatan dengan coass itu adalah yang paling murah. karena itu tadi, jasa kita tidak (belum) dibayar. jadi pasien hanya membayar alat dan bahan. malahan ga jarang juga kita yang bayari pasien.

kasian ya kita, sudah tak digaji, malah ngebayarin pasien *cry* 😦

kenapa kita ngebayarin pasien? well, some people who meet our requirement was poor. karena memang beberapa kasus memang dipengaruhi oleh faktor ekonomi. contohnya? gigi tiruan lengkap, cabut sisa akar. why? hmmm mungkin karena mereka tidak mampu untuk merawatkan giginya saat masih dalam tahap awal kerusakan. atau memang kesadaran terhadap kesehatan gigi dan mulutnya kurang, jadi pas masih belum sakit belum ke dokter gigi. tapi  waktu udah sakit baru ke dokter gigi. padahal saat gigi terasa sakit itu keadaannya sudah parah sehingga gigi harus dicabut.

yaa bermacam-macam alasan tergantung kedadaan individu.

sebenarnya kita sedih juga ketika ada teman yang ingin perawatan, tapi ingin dibayari alias gratis. ya kita memang butuh sih, tapi kalau duitnya seret, ya requirement juga ga bisa terpenuhi 😦 so for anyone who accidentally stop by to read this, i wanna say “mohon bantuan dan kerja samanya yaa. kita para coass bekerja secara profesional kok”

kita hanyalah dokter gigi (berusia) muda yang membutuhkan pengalaman. kita akan bekerja secara profesional. jadi jangan pernah ragu untuk datang ke kita

Sebuah Cerita Perjuangan Skripsi

Assalamualaikum wr. wb.

I will start my next post with a common question:

gimana sih kuliah di kedokteran gigi, khususnya di Indonesia?

hmm ini pertanyaan yang sangat luas jawabannya. karena ini jawabannya sangat subjektif. tapi kalau aku cerita cerita dengan teman teman sejawat, ya jawabannya hampir sama. sulit, capek, pusing, praktikum dan laporan ga ada habisnya, belum lagi tugas dan kuis yang dibawa pulang. ya memang begitu. ga bisa dipungkiri, memang begitu. Baca selengkapnya